“Keluarga Berencana” dalam Pandangan Islam

  1. Keluarga Berencana menurut UNDANG-UNDANG

Keluarga Berencana (KB) adalah sebuah program yang dicanangkan pemerintah dalam menekan kepadatan penduduk. Pengertian program Keluarga Berencana (KB) menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1992, (tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.

Sedangkan pengertian program Keluarga Berencana (KB) menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009, BAB I PASAL 1 AYAT 8 KETENTUAN UMUM (tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan  dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.

Ada beberapa argument yang dapat di jadikan langkah yang harus di lakukan kepada pasien, antara lain :

  • Menginformasikan kepada pasien dan keluarga/suami, tentang manfaat jika pasien melakukan KB, dan resiko apabila pasien tidak melakukan KB berdasarkan indikasi medis pasien.
  • Memberikan saran kepada pasien agar melakukan KB dengan alasan yang berfokus pada indikasi medisnya.
  • Karena pasien memiliki hak untuk membuat keputusan tindakan medis yang akan diterimanya. Maka, kita serahkan kembali sepenuhnya keputusan kepada pasien.
  • Menerima dan Mendukung keputusan yang telah dibuat oleh pasien

Jika KB tersebut bertujuan untuk “membunuh” anak atau membatasi keturunan, maka program KB dilarang, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Israa’ : 31

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut (kemiskinan) kami akan memberi rizqi kepadamu dan kepada mereka”.

Sebenarnya program KB dalam arti sempit dapat diartikan dengan membatasi jumlah anak. Namun, itu dilakukan bukan dengan cara membunuhnya, melainkan dengan cara misalnya menunda usia pernikahan sampai usia yang secara reproduktif siap untuk melahirkan, mengatur jarak kelahiran misalnya jarak antara anak pertama dan kedua minimal 2-3 tahun. Perencanaan dalam berkeluarga ini banyak manfaatnya baik bagi kesejahteraan ibu, ayah maupun anak-anak mereka agar hidup lebih berkualitas. Kecuali, dengan alasan tertentu dan kondisi tertentu yang mengharuskan seorang istri untuk tidak melahirkan lagi demi kesehatannya.

Membatasi keturunan hukumnya Haram (Tahdid Nasl)

Termasuk disini:

  1. Slogan 2 anak cukup yang dicanangkan pemerintah, padahal bagaimana suami dan istri dalam keadaan mampu dan sehat.
  2. Alasan karir atau untuk hidup senang atau hal-hal lain yang serupa yang dilakukan para wanita zaman sekarang ini.Semua hal tersebut juga tidak boleh.
  3. Mengatur waktu kehamilan disebabkan keadaan diatas, hukumnya mubah (Tandhim Nasl)

Pengaturan yang dimaksud bersifat sementara, dan tidak permanen seperti tubektomi dan fasektomi.sebab 2 cara tersebut dilarang (Haram) kecuali keadaan darurat. Sungguh Allah dalam al-Qur-an telah menjadikan banyaknya keturunan sebagai anugerah (bagi manusia) dan menjadikannya termasuk perhiasan (kehidupan) dunia. Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ

“Allah menjadikan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istrimu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.” (Qs. an-Nahl: 72)

Allah ta’ala juga berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia.” (Qs. al-Kahfi: 46)

(Kemudian) barangsiapa yang memperhatikan pembahasan masalah ini (dengan seksama) dia akan mengetahui bahwa pendapat yang membolehkan untuk membatasi keturunan adalah pendapat yang bertentangan dengan kemaslahatan (kebaikan) umat Islam (sendiri). Karena sungguh banyaknya keturunan (kaum muslimin) termasuk sebab kekuatan, kemuliaan, keperkasaan dan kewibawaan umat Islam (di hadapan umat-umat lain). Sedangkan membatasi keturunan bertentangan dengan semua (tujuan) tersebut, karena menjadikan sedikitnya (jumlah) dan lemahnya kaum muslimin, bahkan menjadikan musnah dan punahnya umat ini. Ini adalah perkara yang jelas bagi semua orang yang berakal dan tidak butuh argumentasi (untuk membuktikannya). Allah berfirman:

وكأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-’Ankabuut: 60)

  1. An Nisa ayat 9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Walaupun dalam Alqur’an tidak tertulis secara literal tentang KB, namun secara substantif banyak sekali ayat-ayat Alqur’an dan hadis yang mendukung pengaturan jarak kelahiran dan menekankan pentingnya menciptakan generasi yang berkualitas, misalnya Firman Allah  dalam surat

Al-Baqarah (2): 233

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا لاَ تُضَآرَّ وَالِدَةُ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودُُلَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالاً عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَن تَسْتَرْضِعُوا أَوْلاَدَكُمْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّآءَاتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرُُ {233}

”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi akan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

(Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.) (Dari surat Al-Baqarah (2): 233 dapat dipahami hal berikut ini:

(1) dianjurkan agar ibu menyusui anaknya selama 2 tahun;

(2) ayahnya bertanggung jawab atas nafkah yang pantas kepada istrinya berupa makanan dan pakaian;

(3) tidak dibenarkan seorang ibu menderita karena anaknya, demikian pula ayah dan ahli warisnya, sehingga jika si ibu ingin menyapih anaknya atas dasar musyawarah, maka tidak ada dosa bagi kedua orang tuanya;

(4) dibolehkan untuk menyusukan anak kepada orang lain dengan upah yang patut. Isi surat Luqman ayat 14 dan al-Ahqaf ayat 15 menerangkan beratnya proses reproduksi yang dialami seorang perempuan, baik saat kehamilan, melahirkan, serta menyusui  memakan waktu hingga sekitar 30 bulan.)

Jika Alqur’an menyebutkan bahwa menyusui secara sempurna adalah dua tahun, maka jarak kelahiran ideal antara anak yang satu dengan yang berikutnya  adalah minimal 2-3 tahun. Semakin jarang jarak kelahiran antara satu anak dengan yang lainnya,  tentu saja bisa semakin menambah kekuatan fisik si ibu untuk merawat dan  membesarkan anak yang telah dilahirkannya dan bertambah pula kesiapan mental untuk menyambut kelahiran anak berikutnya.

  1. Hukum KB menurut Hadits Nabi

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ إِنِّى أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَجَمَالٍ وَإِنَّهَا لاَ تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا قَالَ « لاَ ». ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ « تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ ».

Artinya: Dari Ma’qil bin Yasar, berkata: seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Aku mendapatkan (calon) seorang perempuan yang memiliki status dan kecantikan, namun ia tidak bisa beranak, apakah aku boleh nenikahinya?” Nabi menjawab: “Tidak”. Kemudian datang lagi kedua dan datang lagi ketiga kalinya (untuk bertanya lagi). Lalu Nabi menjawab: “Nikahilah calon yang penyayang dan potensial beranak. Aku sungguh akan memperbanyak umat ini melalui kalian”. (HR. Abi Dawud, no. 2052).

Untuk memahami hadis ini tentu harus ditangkap inti masalahnya, yaitu jika seseorang  hendak menikah, dianjurkan memilih calon yang penyayang, penuh kasih (wadud) dan berpotensi untuk memiliki anak (walud). Jika alternatifnya adalah memilih dengan calon pasangan yang (diduga kuat) tidak bisa punya anak, maka disarankan memilih calon yang berpotensi dapat memiliki keturunan. Dengan keturunan tersebut, Nabi saw. bermaksud menjaga keberlangsungan umatnya dengan jumlah yang banyak dan berkualitas, serta kuat secara jasmani dan ruhani. Hal demikian ditunjukkan dalam semangat ayat dan hadis lainnya. Salah satunya adalah hadis berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ».

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan dalam segala hal, kekuatan itu baik. (karena itu) jagalah apa yang membawa manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Jika kamu ditimpa sesuatu, janganlah berkata ‘seandainya aku berbuat begini, maka akan begini’, namun katakanlah ‘Allah telah mengkadarkan dan apa saja yang Dia kehendaki akan terjadi. Karena sikap ‘berandai-andai’ membuka peluang perbuatan setan.” (HR. Muslim, no. 6945).

Dari hadis di atas, bahwa Allah dan rasul-Nya lebih mencintai umatnya yang kuat dalam segala hal, daripada umatnya terjangkit sejumlah kelemahan, baik fisik, mental, maupun sosial-ekonomi. Hadis tersebut juga menegaskan tentang pentingnya kualitas generasi. Tegasnya, generasi yang kuat lahir-batin, moral, intelektual, sosial-ekonomi, jauh lebih utama daripada sekadar banyak jumlah namun kurang memiliki kapasitas yang diperlukan dalam kehidupan yang semestinya. Sementara untuk melahirkan generasi yang unggul tersebut diperlukan langkah-langkah, salah satunya adalah dengan mengatur jarak kehamilan istri yang seimbang dan aman. Jika jarak tersebut tidak seimbang atau tidak aman, misalnya terlalu cepat antara kelahiran anak yang lebih besar dengan kehadiran bayi yang dilahirkan akan mempengaruhi kualitas kesehatan ibu dan juga kesehatan anak. Perhatian orang tua terlalu sedikit karena harus dibagi-bagi dengan anak-anak yang jumlahnya banyak. Ini semakin sulit jika ditambah masalah ekonomi yang pas-pasan, pendidikan yang kurang, dan waktu yang terbatas dari orang tua untuk mendampingi pertumbuhan anak-anak. (maksudnya, yaitu boleh melakukan KB tapi dengan niat ingin mengatur jarak kehamilan istri yang bisa mempengaruhi kesehatan ibu dan anaknya.dll )

Dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Saad bin Abi Waqqash :

إنك تدر ورثك أغنياء خير من أن تدرهم عالة لتكففون الناس (متفق عليه)

“Sesungguhnya lebih baik bagimu, meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan daripada meninggalkan mereka menjadi beban atau tanggungan orang banyak”. (H.R Muttafaq Alaih)

Dalam hadits tersebut di atas dapat dipahami, bahwa suami istri sepantasnya mempertimbangkan tentang biaya rumah tangga selagi keduanya masih hidup dan sepeninggalnya nanti. Jangan sampai si anak menderita, apalagi menjadi beban bagi orang lain. Dengan demikian hendaknya dipikirkan bersama oleh suami isteri.

  1. Hukum memotong organ reproduksi Laki-Laki/Perempuan

Sejak program Keluarga Berencana (KB) menjadi program nasional pada tahun 1970, berbagai cara kontrasepsi telah ditawarkan dalam pelayanaan KB. Mulai dari cara tradisional, system kalender, barrier, hormonal, alat kontrasepsi dalam Rahim, dan kontrasepsi mantap. Kontrasepsi mantap yaitu vasektomi pada laki-laki dan tubektomi pada wanita. Vasektomia dalah pemotongan saluran pengangkut sperma (vas deferens) dari epididymis di dalam testis vesikula seminalis, sehingga sperma tidak mampu diejakulasi dan pria akan menjadi tidak subur (Everett, 2007). Tubektomi adalah metode steril bagi wanita dengan cara mengikat tuba fallopi, sehingga sel sperma tidak dapat bertemu sel telur (Mulya, 2011).

Di Indonesia, kontrasepsi mantap telah dikembangkan sejak tahun 1974. Tujuan kontrasepsi mantap adalah kontrasepsi permanen, kontrasepsi yang aman dan mantap manfaatnya, namun tidak mustahil karena sesuatu alasan (biasanya musibah), akseptor kontrasepsi mantap meminta rekanalisasi. Oleh karena itu, pertimbangan dan keputusan melakukan kontrasepsi mantap perlu berhati-hati. Peraturan perundangan tentang kontrasepsi mantap belum ada di Indonesia.

Penerimaan masyarakat terhadap metode ini belum bulat. Tokoh agama banyak yang menentang metode ini karena mengurangi harkat martabat dan kodrat seseorang. Di sisi lain, metode kontrasepsi mantap ini berperan penting dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk dan menjanjikan perlindungan fertilitas yang tinggi. Hukum pemotongan alat reproduksi pria atau wanita dalam program Keluarga Berencana (KB) menurut agama Islam metode ini dilarang, kecuali dalam keadaan darurat, seperti untuk mencegah menjalarnya penyakit menular atau untuk menolong jiwa orang yang hendak menjalani vasektomi dan tubektomi.

Dalam kaidah ushul fiqih bahwasannya: Addhoruurotu tubiihul mahdzuurotu ,“Keadaan darurat membolehkan hal-hal yang dilarang.”

  1. Hukum Islam yang mendukung pelaksanaan KB

Tetapi dalam al-Qur’an dan hadist ada ayat-ayat yang berindikasi tentang diperbolehkannya mengikuti program KB, yakni karena hal-hal berikut Diantara ulama yang membolehkan program KB adalah Imam al-Ghazali, Syaikh al-Hariri, Syaikh Syalthut, Ulama yang membolehkan ini berpendapat bahwa diperbolehkan mengikuti program KB dengan ketentuan antara lain: untuk menjaga kesehatan ibu, menghindari kesulitan ibu, untuk menjarangkan anak, dll. Mereka juga berpendapat bahwa perencanaan keluarga itu tidak sama dengan pembunuhan, karena pembunuhan itu berlaku ketika janin mencapai tahap ketujuh dari penciptaan.   Dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Saad bin Abi Waqqash :

إنك تدر ورثك أغنياء خير من أن تدرهم عالة لتكففون الناس (متفق عليه)

Sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan dari pada meninggalkan mereka menjadi beban atau tanggungan orang banyak.”

Dari hadits ini menjelaskan bahwa suami istri mempertimbangkan tentang biaya rumah tangga saat keduanya masih hidup, jangan sampai anak-anak mereka menjadi beban bagi orang lain. Dengan demikian pengaturan kelahiran anak hendaknya dipikirkan bersama. Sebenarnya tidak ada Hadits atau ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang atau memperbolehkan KB secara “terang-terangan”, tetapi dalam Al-Qur’an dan Hadits ada ayat-ayat yang indikasinya memperbolehkan program KB, yaitu karena hal-hal berikut:

  1. Menghawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 195 :

ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة (البقرة

“Janganlah kalian menjerumuskan diri dalam kerusakan”.

  1. Menghawatirkan keselamatan agama akibat kesempitan penghidupan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi:

كادا الفقر أن تكون كفرا

“Kefakiran atau kemiskinan itu mendekati kekufuran”.

  1. Menghawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran anak terlalu dekat sebagaimana hadits Nabi:

ولا ضرر ولا ضرار

“Jangan bahayakan dan jangan lupa membahayakan orang lain.

Reverensi :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s